header image
 

Jadi Hantu …

Kepalaku masih nyut-nyut an, kerongkonganku guatel ngaudzubillah…trus sorry ini agak-agak disgusting … umbelku dah kuenthel berwarna kuning terang agak-agak gelap …

Kamar masih 50% berantakan, semua laci dah kubongkar abis gak cuman di main bed room, tapi juga laci di kamar mandi sama di meja telpon yg ada di dekat pintu luar main bed room di aile bed roomnya para kurcaci. Pendeknya isinya dah tumpah ruah kluar… Maunya make it organize, abis dapat barang bagus dan murah (ini nih yang penting ;-) )di Ace Hardware buat bebenah isi laci.

Maunya seh dibereskan sampai 100% gitu, tapi badanku rasanya meriang habis… Konon, teorinya penyakit gini ini cuman satu obatnya : ISTIRAHAT ….

Istirahat ? OK aku meringkuk dan menekuk kaki dan tubuhku sampai compact kayak janin yang siap dilahirkan di kamarku. Tirai yang menutup dua sisi kamar kubuka lebar-lebar, biar seger ngelihat my favourite giant trees, atau kalo lagi mujur bisa nyengir nglihat tupai yang sliweran di dahan yang sedang dipenuhi bunga flamboyan… Biar gak ngerasa sakit-sakit banget … walo rasanya dah klengerrrrr…..

OK badanku dah istirahat, tapi otakku jadinya kengangguran baget deh… keliling-keliling gak jelas, ngider kayak orang jualan scarf ;-) sama kue ;-) (hik hik ini kerjaanku terakhir) Ohhh enaknya orang sehat itu…

Duh enaknya klo ada segelas air putih hangat, andai Rafii’ ada di sekitar. Pasti gak pakai nyuruh deh…anak itu bakal datang dengan secangkir air putih hangat, dengan suhu yang pas! Gak ada yang bisa kasih aku segelas air putih hangat dengan suhu yang PAS kecuali Rafii’! Duh, baiknya dirimu … kok gak pulang-pulang seh dari sekolah… jam berapa ini yah ?

Hmmm aku jadi nyengir sendiri inget Rafii’… Bocah satu itu kadang nyebelin buanget, kadang culun habis…. kadang so sweet…

Fragmen kemarin tiba-tiba nyamber isi kepalaku yang sedang mencoba santai dan istirahat…

Aku lagi gelimpangan di sofa di ruang tamu. Anak-anak rebutan nyelip di sela-sela ruang yg masih tersisa di sofa di sekitar tubuhku yang tergeletak …, busyet dah… klo maknya sehat gitu seh aku pasti mbales nimpa2 mereka.. Kali ini lain, Rafii’ ambil posisi rebahan miring di depanku yg tergeletak miring. Kupeluk badannya dari belakang. Ismail ada di belakang dan memelukku. Berhubung dah gak ada ruang tersisa di sofa, Rizqi terlentang di atasku! Yah, biasa … gak mau ketinggalan… Pada kasus ini, alhamdulillah anakku mungil-mungil. Klo gedhean bisa cemet aku kayak Tom and Jerry :-P
Aku lupa persisnya percakapannya apa, tapi aku inget auranya adalah bincang santai, sedikit memberi ilustrasi agar anak-anak jadi lebih mandiri, bahwa setiap orang akan mati, gak terkecuali maknya..

Trus, si Rafii’ yang kayaknya kepengen nanya tapi takut, gak mau mengucapkan “mommy mati” sampai pada kalimat yang akhirnya diucapkan saat itu dengan tonenya yang serius dan prihatin dan takut bercampur jadi satu…

Gini neh :

Mi… entar kalo mami mati, jangan nakut-nakutin Rafii’ ya…. Jangan jadi hantu ya mi….

WAKAKAKAKAKA aku ketawa kenceng-kenceng sampai ngguling dari tempat tidurku …gedebuk brukkkk!!!

Duh repotnya ISTIRAHAT ituuuuuuuuuuuuuuu!!!! Ada gak yang bisa kasih tips and trick “mengistirahatkan” otak ??? Cemana caranyo derek sadoyo….?? Ujung-ujungnya gak tidur malah end up ngetik!

Hehehehe tapi ketawa juga bisa jadi obat khan ? Bego banget deh! Doain aku gak jadi hantu ya friends entar klo mati ;-)

Menghitung kelebihan, mendoakan sisanya …

Keinginan, harapan yang jauh di depan sering membuatku buta untuk mensyukuri sesuatu yang ada saat ini, detik ini. Kadang terlalu jauh ke depan sehingga menjadi seperti angan belaka, yang sering membuatku gundah, akankah menjadi nyata ?

Beberapa hari yang lalu aku tercenung, keharuan menyesak menyadari Rafii’ mengingatku, ibunya, begitu rupa… Kegundahanpun menyublim begitu cepat, he’s so sweet why am I  so worry ??

“Mami…., ini Rafii’ bawakan kue takjil hari ini di musholla, ueenakkk lho…” seraya membuka bungkusan tissue yang berlipat kucel. Ada 3 potong kue di depanku lumpia, bolu pandan, puding. ”ayuhlah mami, makan”.  “Ini kue bagian Rafii’ tadi ? Rafii’ udah makan ?”, selidikku mengamati wajahnya.

Rafii’ anak pertamaku sejak Ramadhan tahun lalu mulai berpuasa. Tahun ini Ismail ikut berpuasa. Sensasi terbesar Ramadhan buat anak-anakku adalah berjalan menuju musholla menjelang adzan maghrib, duduk bersimpuh menunggu adzan bersama teman-teman menghadap 3 macam kue takjil, sebutir/tiga butir kurma dan segelas teh hangat. Buat mereka rasanya luar biasa! Disusul sholat maghrib berjamaah, pulang makan besar (nasi), kembali lagi ke musholla untuk isya dan tarawih dan kembali menemukan teman-teman di musholla. Musholla menjadi tempat yang paling rajin mereka kunjungi bertiga. Jika sudah waktunya (mereka sering melihat jam dinding jika sudah sore) mereka buru-buru mandi dan berendengan bertiga berjalan ke arah musholla….

Sepulang sholat maghrib, biasanya suara-suara ribut mulai memenuhi rumah, dan aku pun suka memancing reaksi mereka dengan “Takjil apa hari ini ?” lalu sontak mereka akan berebutan mendeskripsikan takjil hari itu. “Enak gak ? duh kepengen mommy” begitu biasanya reaksiku … :-)

Aku tercenung saat Rafii’ kembali menyodorkan ketiga kue itu sembari berkata “maaf mi, baru skg Rafii’ bawain mami kuenya, soalnya biasanya selalu habis…banyak yang buka di musholla… cobalah mi”.

Daddynya menambahkan “Ia, tadi masih sibuk ajah bungkus-bungkus, daddy pikir dia ngurusin kuenya, padahal sudah qomat maghrib…, dia sibuk buka kotak-kotak kue, nglihat masih ada yg blum dimakan gak, dady ingetin untuk segera mengambil shaf berkali-kali …ternyata kue buat mommy …”

Duh…. nyesss rasanya hatiku, pandangan di depan rasanya blurrr , despite all things that he has done and what I did when I get upset, he’s still thinking of me …. So sweet……..! Kuamati wajah dan tubuhnya yang masih mungil dgn kesadaran baru - he is just a kid, and he puts me in some corner of his heart … Did I tell you that I love you son ??! Yes mom, milions… he said. But this is different son - you’re my world, you make me someone, you’re the reason to be living.

“Assalamu’alaikum mi, Rafii’ mau masuk”, seru Rafii’ menggedor pintu kamar tidur kami.. For some reason mereka selalu bilang “kamar mommy” instead of “kamar daddy”. Usianya sudah menjelang 9 th November nanti, tapi ia lah yang paling penakut. Kemana saja ia pergi selalu minta diantar, tidak ada rotan akar pun jadi, klo gak mommy, daddy, Ismail atau bahkan Rizqi pun jadi - adik bungsunya yg masih 4 th. Adik-adiknya sudah begitu mandiri untuk menjelajah rumah, mandi dan tidur sendiri. Kalau Rafii’  selalu minta ditemani.

Kali ini aku menjawab pendek “tidak boleh”, saat ia meminta tidur bersama kami (lagi). “takut mi … “sahutnya pendek, terduduk di lantai bersandar di tembok kamar tidur di sebelah pintu kamar. Matanya memerah saat kukatakan, bahwa ia sudah besar, bahwa segala hal selalu dimulai dari “tidak biasa”, tapi musti dimulai. Kalau nggak segera dimulai akan memupuk kebiasaan yang gak baik  bla-bla… Lambat laun kulihat air mata menggenang di pelupuk matanya, tanpa suara saat kutanya tentang “siapa yang paling perkasa dan heibattt, semua yang “bergabung” pun tetep kalah” - yah Allah SWT. Aku ulangi lagi sifat-sifat Allah yang dihapalkannya di sekolah… yang Maha Segalanya …. bahwa Ia juga Penyayang, tidak pernah tidur, berilmu, dst. Kepada siapa Rafii’ mesti minta tolong kalau Rafii’ takut ? Bukan ke Mommy, ke Allah.. Dan genangan itu pun menetes tetap tanpa suara. Aku benar-benar merasakan rasa ketakutannya….

Terilhami keponakan yang sejak kecil berdzikir menjelang tidur, aku temani Rafii’ berjalan menuju kamarnya, berdoa tidur, doa untuk kedua orangtua, dan doa “sapu jagat” ;-) selamat dunia dan akhirat dan diikuti dzikir tak henti.

Aku terharu saat menemaninya melafazkhan dzikir sampai ia jatuh tertidur di tempat tidur di kamarnya… Kupandangi wajahnya yang terlelap, he’s just a little boy… dan begitu dekat kepadaku. Yang terkesan tidak peduli, tapi selalu ingat kepadaku, yg selalu membawakanku segelas air putih saat aku gak enak badan dan membawa selimut dan menutup tubuhku di kamarku…

Love you son, semoga jalan orang-orang yang Allah sayangi yang selalu kau lewati … saat ini dan saat mendatang, selalu. Bersandarlah kepada-Nya, dan hanya kepada-Nya.. Setengah tahun belakangan ini Rafii’ is amazing … banyak pencapaian yang seharusnya aku beri compliment langsung … Ketertibannya saat waktu belajar mengaji, kesigapannya menjawab pertanyaan-pertanyaanku seputar sekolahnya hari itu, dan kemampuannya untuk tidak menjadi “baling-baling” dan bersuara keras di musholla  spt tahun lalu … You’re doing great son, keep on making improvement …

Beranjak ku dari kamar Rafii’ , sejenak kulihat Ismail sudah jatuh tertidur di ranjangnya, nyenyak. Ku amat-amat i lagi wajahnya yang paling mungil dari tiga  bersaudara… Kadang-kadang aku jengkel banget sama si cerewet satu ini, serta risih dengan sikapnya yang selalu menciumiku di seluruh wajahku. Jika Rafii’ sering mengejutkanku dengan tingkah laku yg menunjukkan perhatiannya kepadaku, kalau Ismail … aku selalu dihujani kata-kata “Love you mom” - “Sayangku mami” - “mami tercantik di dunia” dst dst anytime anywhere! Duh, gemes pengen nutup mulutnya klo aku lagi sibuk buanget sementara ia sibuk bilang “lihatlah mataku mami…! Aku sayang…. sama mami” Halah - entar deh, ini keburu gosong!!

Ismail adalah anak dengan driver yang sangat kuat dari dalam dirinya, he knows exactly what he wants, gak terpengaruh dengan pilihan orang lain, dan berusaha sekuat mungkin untuk makes what he wants coming true. Percaya diri dan sekaligus ramah!  He is amazing little kid with giant dreams. Ia puasa tahun ini, penuh sampai maghrib mulai hari ke tiga Ramadhan. Mulanya ia berpuasa sampai dzuhur…”aku latihan puasa” katanya…

Sampai hari ke 3 iseng aku bilang “cobalah sampai maghrib” … “Aghhh nanti aku lapar mi….”  “Sama dong kayak mommy, daddy, mas Rafii’ .. ” sahutku meledeknya. “Ahhh aku khan masih kecil” sambutnya. “Tapi Ismail khan heibattt” sahutku… Dan tak terasa Ramadhan kurang 10 hari lagi dan Ismail puasa penuh hingga hari ini… Ismail satu tahun belakangan ini kurang bisa mengendalikan nafsu makannya yg besar atas makanan-makanan “black list” mommynya…, padahal dulu ia yang paling advance soal satu ini, sejak ia masih umur 2 tahun!!! Semoga dgn berpuasa, ia mulai mengerti arti “menahan diri” kembali… Tubuhnya yang mungil memancing orang berpikir ia masih terlalu kecil untuk berpuasa. Aku terhenyak saat beberapa teman bertanya kepadaku, atau pada Ismail langsung “dapat apa dari mommy kalau puasa ?” Duh… gak pernah kepikir menjanjikan apapun padanya untuk urusan satu ini…, ataupun memberinya “punishment”. We’re just playing the game - the positif one…  Semoga ia tidak berpikir untuk menjadi komersil atas kebaikan-kebaikan yang ia lakukan…..

Satu persatu kupandangi bagian tubuhnya yang mungil, sampai lesung pipit di pipi kanannya, membuatku mengingat senyuman pengunjung sholat tarawih di musholla.

Ismail mempunyai tone suara yang khas, agak melengking, namun tidak menyakitkan telinga (secara desibel) namun distinctive! Awalnya aku gemes mengingatkannya yang selalu “berlomba-lomba” dengan suara Imam … bayangin! Mendahului Imam yg pakai mic dgn suara keras dan tone yang khas untuk setiap gerakan dan bacaan sholat..! Duhhh guemessss berapa kali kuingatkan, teteup ajah… sampai semua makmum di musholla hapal dan kadang menanti-nantikannya. “Hari ini robbi firli robbi firli robbi firlinya gak kedengaran”, kata tante Elsie malam ini. Setiap kali diingatkan “Suara yang boleh terdengar saat sholat berjamaah hanya suara Imam”, ia akan menyahut “Ismail kepingin jadi Imam …!” Whewww

Suatu hari saat ceramah sehabis witir - ustadz mengangkat tema “perulangan” untuk mensugesti diri, dan bahwa seluruh alam semesta akan “bekerja” untuk membuatnya jadi nyata. Ismail dan para pengunjung kecil seperti biasa hilir mudik terlihat tak perduli dan sibuk menjahili lap top untuk ceramah sambil tes bayang-bayang diri di depan in focus. Nyebelin! Ustadz berujar, kalau perlu apa yang menjadi keinginan itu di print lalu dipasang di cermin dan diingat setiap saat bercermin…

Tak kusangka menjelang kami meninggalkan musholla, Ismail nyeletuk ke daddy nya “nanti Ismail mau google cari gambar roket di internet, lalu Ismail print dan ditempel di kamar Ismail” What ??? “Ismail khan mau jadi Astronaut” Glekkkk… Ternyata ia mendengarkan! Never underestimate him!! That’s my big lesson!

Tidurlah anakku, terbanglah kemana kau mau, dan menjadi-lah Imam dimanapun di alam semesta ini yang kamu pilih…! Jadilah anak yang sholeh, dan doakan mommy dan daddy setiap waktu…di belahan manapun alam semesta ini kamu berada! Dan bawalah kebaikan bagi sebanyak-banyaknya umat… (Hiks, teringat cita-citanya untuk membangun rumah di Planet lain untuk orang miskin yang gak punya rumah di Bumi).

Lain Rafii’, Ismail, lain pula si bungsu Iqi. Ia adalah anak yang paling “ngeh” dan peka terhadap sekitar, atas segala stimuli yang masuk melalui semua inderanya, mata, telinga, hidung, kulit… Amazing! Paling mudah belajar - paling cepat memahami dari mengamati. Dari tiga bersaudara, justru ini yang membuatku kurang memberi stimuli kognitif padanya. He’s doing great already! Jika aku menggumam membutuhkan sesuatu, ia yang dilantai bawah rumahpun reaktif membawa apa yang kubutuhkan (dengan menggumam tanpa meminta kepadanya). “Mami nyari ini ya ?” seraya mengangsurkan selotip yang kucari sampai berputar-putar di kamar-kamar… Glekkk aku terpesona !! Jika ia mendengar suara mobil lewat ia akan cepat menganalisa dan bereaksi - jam pulang sekolah, itu  Rafii’ dan Ismail sambil berlari membuka pintu rumah. Kemampuan motorik kasar dan halusnya luar biasa! Dan ia juga pembaca gesture yang baik!!! Jika kupanggil dia karena sesuatu kesalahan, ia sudah mengerti sebelum aku menegur, ia akan menunduk dan merasa bersalah. Ia akan melewati “masa hukuman”nya dengan tertib : duduk di sudut ruang dengan raut wajah bersalah dan menyesal! Dan ia dengan riang hati membawa cucian kotor ke ruang bawah menuruni tangga jika kuminta, meneruskan pesan masak apa hari ini ke bibi, mematikan komputer saat dijumpai menyala, serta amanah dalam mengingatkan saudaranya untuk hanya menggunakan internet di hari minggu.., menyampaikan pesan telephone, meneruskan pesan siapapun kepadaku dengan teratur dan rinci, makan dengan rapi tanpa sejumput makanan pun jatuh di meja!  Tangan kananku yang mungil…, you’re well organized and thurstworthy! Mukanya lucu, suka makai sarung kembar dengan teddy bear kesayangannya :-D He’s so adorable and cute !

Satu hal yang aku kagumi dari ayah anak-anakku : tidak sekalipun mengeluh/complain dalam segala urusan!! Tak sekalipun menoleh ke belakang dalam artian berlarut-larut dalam masa lalu walaupun dengan satuan detik! Jadi ingat betapa gemesnya klo mengantarnya ke pintu luar rumah saat kami masih “dating” dulu.. Kutunggu bayangnya menghilang di ujung jalan sampai benar-benar tak terlihat … sementara ia ?? 7,5 th mengenalnya sebelum menjadi suamiku, tak sekalipun ia menoleh kebelakang sekali lagi walau cuman sekejap! Hari - hari kuberharap, aku masih tak juga jera… Sampai hari ini.. Tapi ada yang berbeda setelah kami menikah…berhubung sudah jadi suami, gak perlu jaim lagi ;-) Iseng secara random kupanggil-panggil dia beberapa meter setelah meninggalkan rumah menuju kantor dgn berjalan kaki. Puasss setiap kali ia menoleh kembali ke belakang dengan senyum lebar mengembang! Terimakasih untuk mengingatkan kami untuk mendekat padaNya setiap waktu, keep on doing that , jangan pernah merasa lelah …

Aku merasa kaya saat ini, mengingat special things arround… Three little kids yang fasih mengucap : tolong, maaf, terimakasih … serta meminta ijin dan seorang suami yang tak henti mengingatkanku untuk menjadi lebih baik….

Dan semoga harapan-harapan lain menjadi nyata seiring dengan berlalunya Ramadhan yang penuh maghfirah dimana semua doa di-ijabah-Nya…, dan ditambahNya semua nikmat bagi hambaNya yang pandai bersyukur….

Blessing in Disguise in Ramadhan days…

Sambil ngetik ini aku gak brenti-brenti terbatuk-batuk sampai termehek-mehek… Batuk bener-bener menguras energiku. Rasanya dada dan perut teregang sekuat-kuatnya sampai otot perut dan dada terasa nyeri… Puncaknya air mata keluar tak terkendali, bukan karena sedih atau haru tapi karena kedasyat-an kekuatan batukku… 

Pagi tadi aku datang ke pengajian dekat rumah. Selama ustadzah menjelaskan tentang amalan-amalan puasa, aku termehek-mehek berkali-kali (mengganggu betul) yg membuatku terpaksa berkali-kali lesap keluar dari rumah Nana sekedar melepas hasrat batukku. Hasrat ?? Woyy Ramadhan neh… Ramadhan. Dan segera melesat kembali dan sering dalam kondisi berlinang air mata. Haru ? bukan… ya itu tadi dada dan perutku sakit bo’… Sekilas bagi yang tidak tahu materi pengajian mungkin aku terhanyut dalam renungan hari itu ;-) Lha gak cucok blas..  Namun setidaknya aku bisa meresumekan isi pengajian hari ini ; amaln-amalan utama berpuasa ; nomor satu itu adalah sedekah, baru tadaruz!

Di akhir pengajian ada tanya jawab, dan bermaaf-maaf-an dgn rekan pengajian. Aku bener-bener kehabisan suara dalam arti sesungguhnya. Suara yg terdengar dari bibirku gak lebih dari suara desis-an gak jelas… Ini hari ke 3 aku terserang batuk secara mendadak… Di hari ke 1 nya secara mengejutkan aku dihubungi untuk menjadi nara sumber di Radio SMART FM lokal Balikpapan untuk esok harinya (hari ke 2 aku terserang batuk berlinang ini) di sesi acara “Living in Harmony” dgn tema “Diet dan Rotasi Makanan untuk Anak Autis”. Wuihhh hari yang sama aku mesti setor Takjil 45 box di mushola deket rumah. Pagi-pagi aku dah mulai hariku dengan bikin Risoles ayam, Cake Puding dengan buah, Pastry dgn topping saus bolognise plus daging. Aku masih menunggu konfirmasi apakah aku bakal jadi ngisi slot jam 11 itu sambil bekutat dgn adonan pastry. Pas jam 10 baru brangkat mandi, ealah lah kok gak ada konfirmasi tapi sms pemberitahuan untuk menyimak “Living in Harmony hari ini oleh ibu Lukie bla bla bla” Duh, jadi toh pikirku….

Pas jam 11 teng kutinggalkan adonan pastryku matang 1/2…  Baru saja 200 meter meninggalkan rumah, di radio mobil terdengar : ”… yang akan kita ulas pada sesi Living in Harmony bersama ibu Lukie, … bla bla bla” Yaiksss!!

Ternyata markas Radio Smart FM itu deket pasar Klandasan yg nyaris kusinggahi 3x dalam seminggu (nih blanja atawa apa yah yawwww). Aku gak pernah perhatian klo Gedung BRI ini jadi satu dgn perkantoran lain.. hiks. Padahal gedung BRI bisa kulihat dari rumah kami (rumah kami letaknya di bukit jadi pemandangannya lepas ke kota Balikpapan). Duh tingkat berapa yah letak markas SMART FM di Gedung BRI ?? Yawww aku gak ikut mencet-mencet angka di lift gara-gara sibuk batuk…!

Setelah perkenalan yang sungguh singkat, aku memasuki ruangan untuk siaran langsung. Melirik sana-sini, dan diakhiri dengan mengambil posisi dekat jendela. Kembali ada beberapa tanya jawab. Dasar Lukie, tukang pidato (that’s what my mom, my dad, and both my sis always call me ;-)..) kayaknya gak puasss gitu loh klo gak menjelaskan detailll banget sampai ke hal-hal yang sungguh gak penting. Nyadar khan selama baca tulisan ini ?! :-P Cilakanya kali ini hasratku berpidato tidak didukung oleh gadget yang mendukung yang selama ini I take it as a granted, suaraku yang medok Suroboyo-an nan merdu itu :-P Hasrat besar tapi lemah syahwat (eit mbleset). Baru kali ini aku merasakan bener betapa aku kehilangan kenikmatan pidato selama ini… tenggorokanku rasanya guatellll buanget. Aseli suaraku mulai terdengar seperti jazz-er banci :-P Mendesah dan berat… Ampyun, bener-bener gak sesuai dengan gaya bicaraku yang konon cenderung cepat .. (kata mahasiswaku dulu klo pas ngasih kuliah dan kata pembokatku yang belakangan ketahuan instruksiku diartikan keliru :-P). Tapi subhanallah, gak sekalipun aku batuk keras sampai membuatku mesti “terbang” melesat dan membunuh SMART FM listeners dengan aumanku yg dasyat itu wekkkkssss.

Begitu sesi hari itu selesai, baru deh kumat batuk-batuk tak senonohku itu…

Tapi sungguh Allah maha pemurah…. Alhamdulillah buangettt. Biasanya neh orang batuk itu enaknya ngapain coba ? Yup ! Minum anget!! Klo beribu-ribu kali batuknya dan pas puasa di hari Ramadhan gimana dwong ?? Bisa ngebayangin gak seh ?? Sungguh luar biasa - jadwal tamu bulananku yang biasanya teng jenggreng tglnya mendadak sontak dimulai jauh lebih awal dan bersamaan dengan penyakit batuk tak henti-hentinya ini. Bersama kesulitan selalu ada kemudahan, itu bener-bener terjadi padaku… Dengan demikian aku masih bisa menikmati secangkir air hangat setiap tenggorokan ini berontak… dan itu dengan frekuensi yang sangat tinggi… Dan hebatnya lagi … ternyata walaupun aku berhalangan yang diperbolehkan, aku teteup ditakdirkan untuk berpuasa. Maksudnye ???  Yup aku teteup puasa! How ? Gimana gak harus puasa dgn kemampuan terbatas bersuara?? Klo biasanya aku gak nyadar menjawab pertanyaan/teriakan anak-anakku yang bertubi-tubi tanpa mendekat kepadaku dengan teriakan juga, kali ini aku gak mampu melakukannya. Untuk menjawab pertanyaan orang yg persis disebelahku saja aku hanya bisa berdesah, apalagi teriakan dari lantai bawah rumah bagian blakang !!! Dan aku baru nyadar klo kami punya kebiasaan buruk itu kali ini. Dalam kondisi seperti ini baru aku mengenang kembali masa kecilku yang selalu dipenuhi teguran-teguran mama. Salah satunya adalah “Kalau mau matur sama papa mama itu nyedhak, berhadap-hadap an, ora bengak bengok koyo ngono  (kalau berbicara dengan orang tua itu mesti mendekat, berhadap-hadapan nggak berteriak-teriak seperti itu) dan ini dikatakan beribu-ribu kali oleh mama padaku :-) 

Dan aku harus sabar mendengar pertanyaan yang diulang berkali-kali dengan berteriak oleh ke tiga anakku gara-gara mereka merasa tidak mendapat jawaban dariku. Padahal aku sungguh sudah menjawabnya berkali-kali, serta mengurut dada krn mereka kok ya gak sadar klo mommynya lagi sakit tenggorokan dan mestinya mereka mendekat untuk bertanya dan mendapat jawaban !! Atau saat mereka membuat kenakalan-kenakalan konyol, mengadu atau menangis dan berkelahi… Melerai dan menahan diri dengan intonasi tinggi ?? Gak mungkinlah!!!  Sulit ??? Ya iyalah!!! Skg aku mesti betul-betul mendekat untuk berbicara, itupun sungguh gak jelas !! Jika telephone berdering aku merasa tersiksa!!! Memikirkan bahwa aku mesti meladeni pertanyaan-pertanyaan ataupun mendengar tanpa mampu berkomentar….

Ternyata Allah memberiku kesempatan untuk belajar di bulan Ramadhan ini, memberiku kesempatan untuk berpuasa (mengendalikan diri) penuh di bulan Ramadhan ini dengan keterbatasanku ini, sekaligus menyadari nikmat yang sungguh luar biasa atas suaraku yang biasa ku pakai “berpidato” :-D dan menyentil dan menegur kebiasaan burukku untuk berkomunikasi dengan berteriak… (dan mungkin dengan “berpidato”)  dengan hilangnya suaraku ini, sekaligus memberikan kemudahan dalam kesulitan ini dengan datangnya “sang tamu rutin” di saat yang sungguh bersamaan. Bukankah ini suatu keindahan dan ke maha besaran Allah yang sungguh luar biasa sayang kepadaku ?? Caranya itu … indah sekali !

Alhamdulillah ya Allah atas semua ketetapanMu, semoga di hari di bulan yang semua setan terbelenggu, hamba menjadi lebih baik lagi dan lebih baik lagi, untuk menyiapkan diri menuju dunia yang dipenuhi godaan setan yang terkutuk yang mulai terlepas nanti setelah Ramadhan berakhir :-)

Sesampaiku di rumah, melaju aku ke dapur, meneruskan kesibukanku yang tertunda tadi, menyiapkan 45 box takjil untuk dikirim ke musholla. Dan tak berapa lama setelah sukses mengantarkan ke 45 box dengan lancar, kudengar suara Adzan mengalun… Indah!

Sungguh hari yang luar biasa! Semoga aku termasuk jajaran orang yang beruntung….

Karma

"Macam-macam saja anak satu ini", gumamku antara geli dan jengkel dan bingung. Pulang rapat persiapan pelepasan siswa TK tempat Ismail sekolah, aku masih geregetan berkelanjutan gak sudah-sudah.

Ini imbas dari usahaku untuk mengalihkan ke"gila"annya dengan dunia dinosaurus. Aku sudah terlanjur muak dengan semua yang berbau Dinosaurus. Ismail sudah menguasai buku hard cover  The Illustrated Dinosaur Encyclopedia setebal 255 halaman yang kubeli sebagai hadiah Ulang Tahun Rafii’ kakaknya. Lengkap dari segala species, perbandingan ukuran, waktu hidup, otak dan kecerdasannya, dll.  Dia bisa memberi label atas semua species yang gambarnya ia lihat, entah itu gambar 2D atau film yang cuman sekilas saja! Jadi inget di film Jurassic Park, duh yg ke berapa ya… di awal cerita ada penampakan penyerangan kawanan dinosaurus yg muncul sangat singkat. Ismail langsung menyebutkan species dinosaurus yang lewat itu dan berlari ke mini library sampai sentoyoran membawa buku tebal yang gak sesuai dengan postur tubuhnya yang mungil.. Dia buka persis di halaman species yang dia katakan, lalu ia tunjukkan pada daddynya. Busyet! sudah ilmiah banget neh gaya pembuktian analisanya :-P Di akhir film, ilmuwan menyimpulkan dan membuktikan bahwa dinosaurus yang menyerbu di awal adalah dari species…. yang ternyata persis analisa Ismail!. Gubrakkk !!

Dan gak terhitung semua benda yang berbentuk Dinosaurus menjadi obsesinya. Gak puzzle, buku mewarnai, macam-macam buku dari tipis ampe tebel gak juga bisa meredam rasa keingin tahuannya, sampai tooth brush holder, T-shirt, sticker, ampe kue Tart Ismail yg ke 5 pun bergambar dinosaurus!, wuah name it. Dah gitu dengan kengangguran ia searching gambar semua species dinosaurus, didownload terus dikasih nama, trus di save. Cape deeeeeeee!!!!

Aku muakkkkkkkkkkk buangettttttt!!!!

Dan, untuk menyelamatkan diriku sendiri dari rasa muak yang semakin menjadi-jadi sebelum muntah-muntah saking enegnya, aku mulai mencari-cari pengalihan. Tapi apa yaaaa ???? Yah sekalian deh dia khan sudah setengah kecanduan globe/bola dunia. Gara-garanya maknya beli buku lengkap dengan CD yg salah satunya adalah Children Atlas. Gara-gara maknya gak rela itu buku dan CD ia bawa makan, bawa tidur, bolak-balik dimainkan dengan kasar, maka aku karantina dah cukup lama. Itu CD bercerita tentang how to travel abroad. Processing Visa, mengenalkan prosedur untuk bepergian (pasport dan immigration procedure), letak negara-negara di belahan dunia, negara, kota, sungai, laut, etc plus hasil tambang, pertanian, laut sampai buildings, dst.

Hmmm karena dia dah cukup makhum, aku pikir iseng-iseng ngenalin konsep siang malam, rotasi dan revolusi bumi dan extend ke tata surya. Iseng ajah. Sambil lalu, gak niat….  Lha kayaknya Ismail dah mulai tertarik…

Sampai suatu ketika, aku googling for google earth. Dikasih tahu suami tentang google earth ini dah lama. Tapi gak niat-niat juga untuk nyari. Malah maknya searching teknik masak mulu …. :-D hahahaha what can I say… that’s so Lukie….! Dapet, trus download deh tuh google earth. Buka bentar, ohhh gini toh. Iseng nyari rumah eyang di Surabaya, sama rumah kami di USA (Umbansari Atas maksudnyeeee :-P). Lalu kira-kira 10 menit kemudian tereak manggil itu kurcaci-kurcaciku.. "Oyyy lihat nehhh". Mereka terperangah "WOWWWWW Kerennnnn !!!!" trus berebutan mouse. Yo wisss aku menyerahkan ke mereka, dan mengunjungi dapur… Gak berapa lama nih, aku kembali Ohhh NOoooo koq bisa ya, kirain earth ajah, ternyata ampe ke planet-planet lain. Ohhh busyet…. Sementara mereka tereak-tereak jejingkrakan kayak lihat topeng monyet :-P

Nah, setelah itu hari-hari jadi mainan itu google earth! Nyahok ! Tiba-tiba nih, aku dah melongo karena Ismail dah bisa nyeritain tetek bengek planet dan tata surya. Dari planet yang terdekat ampe yang terjauh dia bisa katakan susunannya. Sampai partikel pembentuk planet segala, jarak dari matahari, dst. Idihhhhh ngeriiiii….!!! Dan… abis itu…. giliran dia cinta mati ama barang-barang berbau planet dan tata surya! Klo ke gramedia maunya di beliin itu buku tata surya. Dan celakanya saat aku tinggalkan krucil-krucilku dengan eyang kakung dan eyang putrinya, eyang kakung tiap hari disuruh membacakan 2 buku : Thousand You Should Know About jilid yang Planet Earth sama Space ! Bapakku gedheg-gedheg antara heran, bosen dan muakkkkk bacain tuh buku selama seminggu gak pagi, siang, malam!

Nah, tau gak Ismail ini super romantis…?? Dia suka masang tampang syahdu bin romantis (gile makkkk gak kuatttt), trus apa dia bilang ?? Guess!!!  Gini nih :

"I love you mom…., I’ll take you to Pluto" Warakadahhh emang knape ke Pluto ? "Biar KAMU gak kepanasan mom, disana dingin", sahutnya sambil mengerjap-kerjapkan bola matanya. "Emang ada AC di sana Is ? ", Ismail senyum sinis merendahkanku sambil berkata "Pluto itu letaknya paling jauh dari Matahari, jadi disana pasti dingin", katanya bak dosen menceramahi mahasiswanya sambil mengangguk-angguk yakin dengan tampang serius. Sokkkkkkk deeeeee :-P

Aku gak meneruskan lagi percakapan yg semakin lama semakin bikin PUSING !!

Sampai-sampai "kuliah versi Ismail" ternyata berlanjut sampai bapak ibu gurunya di sekolah. Ini hasil laporan salah satu guru TKnya : Bu Nilu. "Masak bu, dia bilang gini sama saya :"

Ismail : " KAMU tahu google earth ?"

Bu Guru : "Gak, apa tuh Ismail ?", sahut bu Nilu sambil tetap mengerjakan sesuatu di depan komputernya pada saat jam istrirahat.

Ismail : "Aku ajari KAMU ya, bentar, kamu lihat saja dan tunggu"

Tahukah sodara-sodara ??? Ternyata dia searching di google dan install itu google earth di kompie gurunya! Sumpe aku kuagettttt buanget krn aku gak nunjukin proses aku cari ampe install itu google earth ke anak-anak !

Bu Guru : "Ah kamu ganggu aja Is, aku khan mau mengerjakan tugas nih"

Ismail : "Ah tunggulah sebentar sampai seratus… — maksudnya proses install selesai 100%"

"Dan abis itu bu, saya ditunjukin macem-macem…., koq bisa sih bu!"

Aku terkesiap NGERI !!!!

Alamakkkkk……..

Dan sodara-sodara hari ini genap karma dinosaurus terlempar ke diriku.

Salah satu acara pelepasan siswa TK adalah siswa disuruh berpakaian sesuai dengan profesi yang menjadi cita-citanya. Dan…. tiba-tiba Ismail nangis sekencang-kencangnya di depan ibu guru di kelasnya yang sedang menerangkan lebih jauh. "Tapi aku khan gak punya baju Astronout….!!"

Sodara-sodara ya betulllllllllll, saat ini maknya paniang gara-gara memikirkan design baju Astronout. Karena baju Astronout adalah mutlak untuknya. Dia gak mau pakai baju kostum profesi lain, karena dia tidak mau jadi tentara/dokter/polisi/insinyur dll. Dia JELAS mau jadi ASTRONOUT !!!

Tidak ada salahnya menghormati cita-cita anak. Dan sudah terbayang dia pakal pakai sepatu astronout kertas dibungkus aluminium foil dapur ku + baju kertas dan helm astronoutnya yg masih bikin kepala maknya berdenyut-denyut !!!

Ohhhhhh what next ???? Will it be more complicated ??? Pisss dehhh !!

Mom..

Sudah beberapa minggu ini aku belajar main keyboard. Sebetulnya lebih untuk memberi dorongan anakku Rafii’ yang kecil hati tapi ingin belajar main keyboard, dan karena obsesi masa kecilku yang belum tertunaikan.

"Kenapa Rafii’ harus malu kalau gak bisa ? Mommy khan jauh lebih tua dan blum bisa, tapi mommy gak malu tuh…, yang penting khan usaha… "

Kemarin aku sampai bagian accord setelah mulai terbiasa dengan melodinya. Entah memainkan lagu satu ini, hari-hari belakangan membuat hatiku biru…maunya nangis, ingat mama. Seolah-olah lagu ini adalah isi hatiku yang kucurahkan untuk mama.

Pesan pelatih yang mengingatkan untuk banyak berlatih untuk pementasan bulan Juli membuatku semakin sering berlatih, dan semakin cengeng…

Mama,

Terimakasih atas hari-hari yang telah kulewati bersamamu,

Terimakasih atas semua pelajaran berharga darimu,

Terimakasih atas semua ketegaran, kecerdasan, ketangkasan, keberanian, ketrampilan dan kreatifitas yang mama contohkan untukku,

Terimakasih untuk pelajaran yang sungguh mewah…

akan contoh real  arti menjadi focus akan sesuatu hal, persistent, konsistent akan suatu tujuan, serta bagaimana mengolah ketekunan darimu sepanjang usiaku….

Terimakasih atas pengejawantahan konsep kasih sayang yang luar biasa darimu,

Hatiku haru biru melihat dan merasakan dirimu tak lagi setegar dan seperkasa gunung karang sebagaimana aku mengenalmu semenjakku kecil,

Mom, maafkan aku yang silap dengan perubahan-perubahan itu,

Beberapa kali aku lupa dan terkesiap menyadari perubahan itu,

saat kuelus tanganmu yang tak sekencang dulu lagi,

dan hatimu yang mulai melunak untuk kenakalan dan keusilan anak-anakku,

serta suaramu yang tak lagi selugas dulu,

saat kulihat cara berjalanmu yang tak lagi secepat dan sesigap dulu,

Aku menyayangimu dan mengkhawatirkanmu…

Cepatlah sembuh mama,

Jangan khawatirkan aku,

Aku baik-baik saja dengan pelajaran yang banyak mama berikan padaku, sepanjang usiaku…

Aku berjanji untuk menata cerita terbaik saja untukmu,

berkata yang terbaik saja untukmu,

karena mama-lah perempuan terbaik untukku,

dengan segala kasihmu…

I dedicate this song for you…

LOVE STORY

Where do I begin to tell a story of how great a love can be,

the sweet love story that is older than the sea,

the simple truth about the love she brings to me?

Where do I start?

With her first hello she gave a meaning to this empty world of mine.

There’d never be another love, another time.

She came into my life and made the living fine.

She fills my heart,

she fills my heart with very special things,

with angel songs, with wild imaginings.

She fills my soul with so much love that

anywhere I go I’m never lonely.

With her along who could be lonely?

I reach for her hand, it’s always there.

How long does it last?

Can love be measured by the hours in a day?

I have no answers now

but this much I can say:

I know I’ll need her till the stars all burn away and she’ll be there.

Carl Sigman

Abang Tukang Buah Pasar Klandasan

Dah hampir sebulan ini aku gak mampir abang tukang buah di ujung parkir-an pasar Klandasan. Tiap mo pulang, rasanya gak pernah absen ngelirik si abang… Bukan kecentilan ;-) , tapi maunya meyapa as a friend.. Si Abang dengan bangganya (rasanya seh) selalu memanggilku ; langganan, dengan senyum bersahabatnya. Entah berapa orang yang dia panggil "langganan" :-) atau ini bagian dari "teknik marketing" si abang… gak tahu yah. Yang jelas, rasanya aku merasa ada yang kurang klo gak nyapa duluan :-).

Si abang selalu menjual buah dengan kualitas terbaik di pasar, dengan harga bersaing. Buah yang ditajanya tergantung musim. Nah belakangan ini kulirik dagangannya cempedak, langsat dan rambutan. Berhubung gak tertarik dengan jenis buahnya, maka begitulah… sudah sebulan aku gak mampir beli dagangannya.

Aku bukan orang yang biasa "bersosialisasi" di pasar. Bagiku penjual tak lebih dari mbak sayur, bu ayam, abang daging, abang ikan, dst. Bagiku orang jualan di pasar - purely bisnis. Biasanya aku belanja seperti kitir-an (baling-baling). Gedubrakan, gak banyak kontak mata dengan penjual, namun lebih banyak melihat barang/product yang di jual. Pasar tradisional selalu menarik bagiku, melihat tumpukan sayur, rempah, buah, dan ikan, memilih-milih, memegang, membandingkan dagangan antar pedagang, melihat abang ikan membelah, mem-fille, melihat detil proses dan cara kerjanya adalah bagian dari "refreshing" buatku.

Suatu saat, seperti biasa - aku yang emang gak perhatian ama tempat, ilmu spatialku yang cetek dan mungkin juga ke-cuek-an dan masa bodho-ku sama keberadaan lintang dan bujur membuatku blingsatan. Aku ke pasar nebeng tetangga dekat rumah. Waktu turun mobil daku gak perhatian itu mobil parkir dimana. Sibuk ajah memikirkan "rencana belanja" dan konsentrasi nyari rute terpendek dan pedagang dgn dagangan terbaik dari rencana belanjaku hari itu. Maunya gak mau nyusahin tebengan - mau belanja super cepet.

Setelah semua belanjaan kudapatkan, giliran aku celingukan kayak orang gila… dimana gerangan itu mobil ?? Mana gak bawa ponsel lagi. Ohhh tolong…. Yang jelas gak mungkin daku naik angkot. Gak bisa masuk kompleks, mesti turun di pertigaan, kemudian jalan cukup jauh dengan tentengan segini banyak - udah gitu jalan masuk kompleks itu berkelok dan nanjak abis - elevasinya mencapai 45 derajat kurasa. Ugghhh ampun, bisa turun berok entar :-P.

Di tengah-tengah celingukan, aku nyerah "parkir" di tempat si abang buah jualan di pinggir parkir-an dekat pintu keluar mobil. Ada alpukat dan jeruk… lumayan ku pikir, sambil melirik bangku plastik butut kosong di samping gerobak buahnya.

Ku pilih-pilih alpukat setelah menawar harga. Amazing - buah alpukatnya bagus, harganya lebih murah dari di dalam pasar. Aku suka milih buah alpukat yang kalo digoyang berbunyi (tanda dah tua di pohon baru dipetik) dannnnn sudah empuk! Tobat deh sampai sekarang klo aku beli alpukat yang belum masak/empuk - pasti sebagian masuk tong sampah krn gagal masak (baca : matang dalam kondisi rusak / daging buahnya hitam). Setiap kali kupilih, gak lupa aku goyang-goyangkan… (tes bunyi :-D). Si abang maksa : "bagus mbak - alpukatnya masak pohon, tua, gak ada yang jelek - ini alpukat dari surabaya…"  Weleh - sejak kapan alpukat Surabaya sounds good ??   :-P "Mbak suka cari  yang bunyi ya….?", kata abang tukang buah… (upsss sorry ya, daku emang sering dipanggil "mbak" atawa malah "adik manis" di pasar…hikhikhik). "Iya" sahutku pendek. Ia mencoba mencari buah alpukat yang berbunyi isinya saat diguncangkan - dan… dari setumpuk dagangannya - sulit didapat buah yg berbunyi saat diguncang.

Dan mungkin saking percayanya dia klo dagangannya OK dan sulit nemu alpukat yang berbunyi, maka dengan yakin dia bilang "Mbak knapa nyari yang bunyi? Yang bunyi itu dagingnya tipis…" Wakssss, daku diem ajah sama senyum, walo rasanya kebelet mau ngejawab (oiiii dapet logika darimana bang ?? gimana klo buah bunyi krn isinya yg kecil ?? :-P) tapi berhubung daku dah mengharap abis numpang duduk di kursi plastik bututnya, maka ku urungkan perdebatan yang bakal membuat hubungan runyam :-P

Setelah transaksi usai, daku melancarkan jurus memelas … "numpang duduk nunggu teman boleh bang ?" "Oh… silahkan…" katanya mendudukan bangku di tempat yang datar (gak miring) dengan sigap dan mencari lap untuk membersihkan itu bangku. Oooooh yesss! nikmatnya duduk…, pucuk di cinta, ulam tiba! Ku pandangi kotak-kotak buah yang belum dibongkar, dannnnn saat itulah sejarah diukir… Daku yang biasanya gak pernah ngomong hal-hal lain slain transaksi hari itu ber"sosialisasi" abis dengan si abang.

Mulai dari keherananku yang sudah kupendam lama (aku sering melirik pasar Klandasan - tempat refreshing istimewaku setiap kali aku melewatinya - biarpun saat pulang malam dari makan diluar, jalan ke mall.., tetep ajah gak bisa tidak itu pasar selalu ajah kulirik…walo sudah gelap dan gak ada pedagang di sana). Namun si abang satu ini gerobaknya selalu terang oleh lampu petromax, sampai gak tahu jam berapa tutupnya. Pernah aku lewat situ sekitar jam 22.30 WITA, dan nyala lampu petromax dari gerobaknyalah satu-satunya penerangan yang ada malam itu di pasar pinggir jalan besar (Jl Sudirman) dan persis di pinggir laut itu, kontras dengan pekatnya malam. Bayangan sosok si abang yang menunggu di belakang gerobak masih bergerak-gerak membuka-buka kotak kayu buah… Hmmm sampai jam berapa yah ?? kupikir sambil menatap pekatnya malam di depan dan suara ribut tiga kurcaci kecilku di jok belakang.

Hari itu, terbayar sudah semua pertanyaan di kepala, "Kadang-kadang sampai malam mbak, pas buah baru datang…" Balikpapan selalu mendatangkan buah dan sayur dari luar pulau (Jawa dan Sulawesi). Sedikit sekali produk lokal, itupun jenisnya sangat terbatas. That’s why harga sayur, buah dan semua penghuni pasar/swalayan sangat terpengaruh oleh "cuaca" yang mendukung kapal berlayar/merapat. Harganya sangat berfluktuasi tergantung apakah kapal sulit merapat atau tidak… Bincang-bincang berlanjut sampai darimana dan bagaimana ia menjalankan perdagangan buah, bayar depan/belakang, modal dll. Sampai suka duka dagang… hoaaaa bisa jadi satu tulisan tersendiri. Yang jelas, hari itu aku melihat abang buah lebih dari sekedar abang penjual buah, namun aku melihatnya sebagai teman, sebagai manusia dengan kebutuhan akan bersosialisasi. Menunggu buah lebih dari 40 jam perminggu membuat pasar berarti sekaligus tempat kerja dan sebagai tempat berteman menjalin hubungan manusia antar penjual serta pembeli seperti aku - bagi abang buah aseli Sulawesi itu. Obrol-an beralih melebar ke hal-hal lain, diluar konteks penjual dan pembeli. Dan aku seperti memiliki teman baru.. Dan abang buah merasa seperti seorang teman, yang menerima tamu; aku. Tak lupa disodorkannya "suguhan" beberapa butir jeruk terbaik di gerobaknya dengan ukuran besar… Duh, nyess rasanya di hati..

Tiba-tiba kukenali sosok tebenganku lewat, dan … karena dagangan abang buah yang memang menarik, tebenganku pun mulai menawar dan memilih.. Bedanya, si abang langsung memberi "special price untuk temanku sama dengan harga alpukat yang sudah kupilih ;-). Ku angkat kantung-kantung plastik belanjaanku yang kusandarkan di gerobak buah.

Selesai sudah sesi kunjungan silaturahimku dengan abang buah, kuucap salaam, dan si abang menyelipkan jeruk-jeruk suguhannya diantara kantung plastik belanjaanku. Terimakasih banyak …

Hati kecilku berbisik dan menilai rupiah dari jeruk-jeruk tadi, ingin rasanya kubayar dengan jumlah cukup, tapi sebagian hati kecilku berbisik ; jeruk-jeruk ini simbol persahabatan yang ditawarkan - dan uang ini garis tipis pembatas antara teman secara manusiawi dan dagang. Dari gesture dan sinar matanya - si abang ingin aku menghargainya dengan menikmati jeruk manis itu sebagai pemberian bersahabat. Ku urungkan niatku memberinya beberapa ribu rupiah. Karena aku merasa abang buah akan lebih senang aku menerimanya tanpa memberinya uang…, sepertinya ia menghargaiku dari percakapan dan keingin tahuanku atas pekerjaan dan hidupnya. Hari itu aku belajar; penjualpun juga manusia - mereka membutuhkan teman… dan pembeli adalah manusia juga yang bisa menjadi teman untuk penjual. Aku melangkah ringan ke mobil teman, hari itu aku belajar sesuatu, dan rasa hangat menjalari hatiku.

Hari berlalu…sampai suatu hari….

Seperti biasa saat kepalaku "penuh" dengan rencana-rencana, aku sering sudah memikirkan/merwencanakan detil step by step 5 hal di depan, sedang tubuhku (tangan dan kakiku) masih mengerjakan 5 hal dibelakang. Tahu akibatnya khan ? sering aku end-up dengan sesuatu yang runyam…:-D Contoh : Aku merencanakan untuk mandi - di kamar mandi aku mendapati kantung sampah penuh, kuhidupkan kran air sambil melangkah keluar membawa kantung sampah penuh dan baju kotor ke belakang - cuci tangan di kran laundry room. On the way kembali ke kamar mandi, aku mengambil baju setrikaan untuk ganti baju sehabis mandi dan baju lainnya , melangkah melewati dapur - kulirik ada sisa sayur yang blum masuk kulkas - aku mampir memasukkan sayur ke kulkas, dan mengambil kantong plastik (di dapur) untuk alas pengganti tong sampah di kamar mandi. Sampai kamar mandi kualasi tong sampah, dan baju setrikaan ku taruh laci. Masuk kamar mandi aku bingung …, dimana baju ganti yang kusiapkan ? Kuaduk-aduk laci baju gak ketemu. Setelah tracing step by step kucari di tempat baju kotor di laundry room gak ketemu, di dapur deket tempat persediaan kantong sampah gak ketemu, dan reka kejadian - dengan desperate akhirnya aku end up membuka kulkas dan kutemukan bajuku di kulkas!!

Nah, betapa runyamnya hidupku jika aku punya puluhan rencana hari yang sama. Termasuk hari itu, saat aku mengendarai mobil, salah satu tujuanku adalah ; Pasar Klandasan. Saat aku merasa belok masuk ke parkiran pasar, tiba-tiba aku merasa kaget dan masuk kembali ke dunia "real" dari dunia "impian dan melalang buana rencana-rencana detail hari itu". Seonggok tubuh jatuh di kap mobil depan - bagian mesin..dengan teriakan "cepet… cepet… mundur mbak…., keburu ada polisi !" Hahhhh??? emang ada apa seh ??? pikirku kaget! Masih juga aku blum sadar dengan situasi - ku tatap tubuh besar yang menjatuhkan diri di depan mataku yang memegang kemudi. Eh, abang buah… apaan ?? Mataku mengikuti arah gerak tubuhnya yang secara gagah berani menghentikan mobil-mobil di belakangku di jalan yang satu arah itu dan mengkomandoku untuk mundur…dan mengurungkan memasuki wilayah parkir pasar Klandasan, dan membantuku untuk melaju satu blok di depan. Whewwww whyyy ???????

Ternyata oh ternyata…. kiranya aku melamun dan masuk ke parkiran pasar Klandasan dari arah pintu keluar parkiran - tempat gerobak si abang buah nyandar.. Dan…. si abang dengan sigapnya "menolong"ku dari ketololanku hari itu, meninggalkan customernya yang masih memilih-milih buah.. Aku terpana….dan aku merasa benar-benar menjadi sahabatnya hari itu…

Haru biru menyergap hatiku hari itu…, ia meninggalkan gerobak buahnya yang sedang dikunjungi beberapa customer demi melihatku akan memasuki wilayah kesulitan… He is my hero that day… Dia mengajariku arti berteman, lebih dari arti berteman yang sudah aku tahu. Yang meluluh lantak kan paranoia hubungan penjual dan pembeli di pasar base on uang… Aku gak akan pernah lupa insiden itu…

Aku tidak pernah sekedar membeli karena ingin membantunya - aku membeli dagangannya karena memang kebutuhan ku sesuai dengan dagangannya atau dagangannya menarik hatiku. Namun aku tidak pernah tidak untuk sekedar menyapanya saat kunjunganku ke pasar sebagai ritual persahabatan kami. Dan aku yakin ia menghargai sikapku itu…

Get along

Seperti hukum kelembaman, bahwa setiap perubahan, selalu ada gaya untuk mempertahankan kondisi sebelumnya. Mobil bergerak yang tiba-tiba berhenti, semua penumpang terdorong ke depan (mempertahankan posisi bergerak maju sebelum pengereman), begitu pula sebaliknya saat mobil bergerak maju dari kondisi diam, (penumpang tersentak kebelakang, mempertahankan posisi sebelumnya).

Ini juga terjadi padaku di setiap fase hidupku. Perubahan selalu terasa sulit, dan proses penyesuaian diri menjadi seni tersendiri di setiap langkah, dan menjadi tantangan yang membuat hidupku far from dull. Tak terkecuali saat kepindahan ke Balikpapan.

Ini tantangan yang benar-benar berbeda dari tantangan-tantangan fase hidupku yang lain. Merge perusahaan tempat suami bekerja dengan perusahaan yg berkedudukan di Balikpapan ini cukup membuat nyaliku teruji ke-elastis-annya. Apalagi berbarengan dengan perasaan "post power sindrome" setelah resign ku dari pekerjaan.

Entah apakah daku menjadi "touchy" atau apalah, tapi kepindahan kami ke Balikpapan berbaur dengan perusahaan yg baru merge dgn perusahaan tempat suami bekerja, membuatku merasa masuk ke dalam komunitas yang jauh dari friendly. Aku merasa menjadi obyek teropong  dari dalam rumah-rumah penghuninya. Menjadi tontonan dan perhatian, sumber kasak kusuk … Aku merasa asing di tempat yang sangat indah alamnya, dan for some reason aku merasa orang melihat kami seperti penjajah…, yang telah merampas ketenangan penduduk asli, tidak dikehendaki kedatangannya, dan semua orang menatap curiga bahwa kami akan mengeringkan sumur-sumur dan menyedotnya untuk kesejahteraan sendiri….yah seperti itulah….

Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Jangan harap orang berubah, menyesuaikan diri dgn diriku, kata hatiku…. Kamulah yang mesti menyesuaikan diri bisik nuraniku. Aku bisa melakukan apapun, asal aku mau dan bersungguh sungguh untuk itu, begitu aku selalu mensugesti diriku saat aku gamang. Tak terkecuali saat perasaan menjadi alien itu menyergapku.

Sulit ?? masya Allah…. I missed my life when everything feels so right, apalagi saat aku merasakan keterasingan dan penolakan-penolakan. Semakin sering aku melakukan perbandingan dan mengenang kebaikan-kebaikan yg tidak aku temukan lagi, semakin aku frustasi…

Entah bagaimana mulanya tiba-tiba aku masuk dalam  kepengurusan POM yayasan sekolah yg dikelola oleh tiga perusahaan, dan salah satunya perusahaan tempat suamiku bekerja. Dengan semangat berbaur, maka ajakan dari rekan penduduk asli itu kuterima. Tiada disangka sang maestro yang menarikku itu tiba-tiba mesti keluar dari Kalimantan. Tinggallah aku tersuruk di kepengurusan dimana aku satu-satunya pendatang baru.. ditengah-tengah penduduk asli. Aku merasa menjadi kaum minoritas diantara begitu banyak suara negatif membanding-bandingkan perusahaan skg dan perusahaan dulu….

Kemudian sampailah aku pada posisi sulit. Saat tidak ada satupun yg mau menjadi koordinator Seksi Usaha ini. Sementara ada tiga orang pegawai yang harus segera digaji. Memikirkan mereka membuat aku nekad, mengambil alih kemudi. Paling tidak gaji karyawan segera diberikan…Hanya itu pikiran sempitku.

Awal berada di situasi ini, aku seperti berada di dalam bara… Sampai suatu saat bara itu membakar semakin panas dan tanpa bisa dikompromi meledak tak terkendali… Aku sedihhhhh sekali. Aku mencoba memahami situasi, dan aku merasa lunglai. Apa yang aku lakukan hanyalah mendengar kemarahan-kemarahan, tuduhan-tuduhan, serta kecaman dan ketidak puasan.

Aku merasa semakin sendiri dan terasing… Sampai kembali nuraniku berbisik… "jika aku ingin dipahami, maka pahamilah orang lain". Semua yang aku lakukan hanya mendengar….. memandang, mencoba memahami.

Ajaib, pelan namun pasti hubungan kami membaik, teramat baik…. Dibalik semua tender, kontrak, perjanjian yang kami buat seiring waktu, membuat aku merasa kami menjadi satu team.. dan hikmah dibalik semua itu; banyak hal yang aku pelajari… terutama  supply chain managemen, food hygen and sanitation, tender, katering dan kantin, bisnis konsinyasi sampai dengan deal dengan mafia… yang sebelumnya tidak pernah masuk dalam list pengalaman hidupku.

Seksi_usaha_kps_5 Saat ini aku merasa dikelilingi teman, hatiku hangat karena merasa diterima.. Terimakasih… tiada pemberian yang lebih istimewa daripada pelukan hangat, tatapan dan sapaan bersahabat serta gurauan seorang teman….

Bila saatnya nanti aku harus meninggalkan semua ini, memikirkannya saja aku sudah merindukan teman-teman baruku…, teamku… Terimakasih untuk hati yang terbuka menerimaku apa adanya.

I dare you…!!

Sering kita berpikir bahwa  “mengendalikan nafsu” adalah berperang dengan sesuatu yang negative secara kasat mata. Beberapa waktu terakhir ini saya bertanya-tanya akan konsep mengendalikan nafsu yang dengan nakalnya bertahta di kepala saya. Bisa jadi ini bukan sesuatu yang orisinal, orang pernah mengangkat dalam bentuk tulisan atau diskusi. Walahuallam, tapi saya terdorong untuk mencoba melemparkan issue ini pada blog saya – kali kali aje dibaca, dan ada yang pengen nimbrung, hiks hiks hiks.

Frankly speaking, awalnya gara-gara kesel sama suami dan anak-anak (hiiii ngaku). Ini semua gara-gara hobby yang dibungkus sama macem-macem alasan yang sounds reasonable. Kemudian, dasar saya yg suka bikin ketoprak-an jawatimur-an di kepala secara imaginer, membayangkan tokoh-tokoh antagonis dan protagonist berdialog dalam sandiwara ini. Simak kesimpulan dari fragmen paling nggilani dalam sejarah penulisan scenario Indonesia berikut ini.

<<<<<<<Be ware! Banyak ranjau… :-D>>>>>>>

Apakah anda punya kesukaan tertentu ? Kalo bahasa  friendster : Interest and Hobby. Seberapa parah anda terseret dalam kesukaan anda ini ? Di titik ini , saya mengajukan prognosis bahwa seseorang yang invalid dalam menghentikan suatu event atau kepentingan yg berhubungan dengan hobbynya tersebut sewaktu-waktu, adalah orang yang hidup dengan semua hawa nafsunya dibalik  lindungan hobby atau alasan-alasan lainnya. (kesehatan/menguntungkan scr finansial/keindahan/pelepas stress/ibadah/dst)

Jika anda punya keberanian dan nyali untuk mengalahkan si kuntilanak satu ini, saat ini juga pikirkan apakah anda punya kemampuan pengendalian diri yang jempolan untuk tanpa alasan yang jelas, dengan suka cita anda bisa melakukan pengereman mendadak… ???

Misal ; "hohoooo besok gw gak buka friendster"

Jika anda gagal, coba evaluasi alasan-alasan anda. Apakah tidak ada alternative solusi untuk alasan yg anda ciptakan tadi? Tentu saja anda harus bersih dari alasan yg bersinggungan dengan orang lain/lingkungan – that’s out of the context.

I let you fill the blank and let me know how you feel…. ;-)

Hohoooooo besok saya gak …………………, tapi saya akan ……………………..

Maka beruntunglah orang-orang dengan hati bersih dan jujur yang mampu mengendalikan semua hawa nafsunya ;-)

Gara-gara pikiran nyleneh ini, sering saya membuat tantangan untuk diri saya sendiri untuk bikin acara pengereman mendadak… hiks, tanpa alasan yang jelas yg berkaitan langsung dgn hobby tersebut, tapi murni pada men-challenge – kemampuan saya untuk mengolah hawa nafsu menurut pandangan saya ;-)

Buruknya saya “menghasut” keluarga dengan konsep ini ;-)

I dare you honey….! ;-)) Muach 3x

P.S.

Tau gak Iqi ngomel-ngomel disebelah : “mommy…. Matikan laptop nya, aku pusing….bosen…..”

“bentar qi, abis selesai mommy matikan “ — > nawar hiks.

Ughhh gw gagal kali ini….. :-D

Cacar Air… ohhh…

Rizqi mondar-mandir sambil memukul-mukul semua benda apa saja yang terlihat disekitarnya sambil berdendang dgn nada suara berkesan BETE.. Sudah 12 hari sejak seluruh tubuhnya dipenuhi gelembung-gelembung kecil berair.., gak bisa kemana-mana, di rumah melulu, bak calon pengantin wanita yg diperam sampai acara "temu".

Bedanya jika pengantin wanita sibuk lulur-an, ratus-an, manicure, pedicure, grooming lah tapi kalo si Iqi, dari saat bangun tidur langsung mandi pakai antiseptic, dan ritual oles salep disekujur tubuhnya berlangsung gak kurang dari 15 menit..! Busyet bener-bener di sekujur tubuhnya. Nggak kepala (atas, belakang, depan, kanan, kiri), jidat, ujung mata, alis, hidung, dagu, leher, telinga, BIBIR!, dada, punggung, pangkal leher belakang, turun sampai ke bagian HOROR (depan belakang), kaki dll…. ughhh

Penyakit menular satu ini cukup bikin heboh, karena datangnya bener-bener pada  timing yang SALAH ! Bagai epidemi di lingkungan rumah dan sekolah, disaat-saat musim Ujian Umum Bersama..! dan saat aku mestinya welcoming my buddy - si dul genuk IRW :-P, serta kedatangan sesepuh keluarga kami yang gaul, om Is :-D

Keterlaluan!

Mulanya bukan Iqi si penyulut keributan ini, tapi kakaknya Ismail. Tanpa peringatan demam dan gejala-gejala lain, tiba-tiba mukanya dan seluruh perut dan punggungnya penuh dengan bintil berair, dan semua kegiatan yg dilakukan tak lepas dari garuk-garuk! Lebih heboh dari iklan shampoo, namun kurasa lebih mild dari efek buah aren Laskar Pelangi :-P

Konon, penyakit ini justru menular, pada saat luka-luka menghitam menjadi koreng (mengering), dan masa inkubasinya mencapai 2 minggu.

Karena mak-nya yang tahu aturan, Ismail - penyulut epidemi ini langsung di-isolasi dari "dunia lain". Tapi mau gimana, tuntutan mobilitas tinggi bagi mak dan bapaknya sementara dua minggu, waktu recovery penyakit ini tidak bisa dianggap singkat! Sebagai tuan rumah yang berusaha sopan, dengan kunjungan singkat 3 hari rasanya mesti diisi maksimum… Tiga hari di Kaltim, ga cukup untuk travelling agak jauh. Akhirnya kami putuskan untuk menjamu sang tamu gaul kami dengan "wisata kuliner" .

Jadi lunch ama dinner 85% di luar rumah. Trusss… gimana nasib trio krucil kami ? Dengan memohon dgn segala hormat, saya minta pembantu yg pulang pergi, menginap di rumah kami, dalam 3 hari.

Tapi kasihan juga deh, gara-gara Ismail masak Rafii’ dan Rizqi juga jadi "terpidana" gitu, dikurung di rumah empat belas hari ?? Ya gak lah…  Trus gimana explain sama Ismail kalo hanya dia seorang yang ditinggal di rumah ?? Well, walo hati saya kasihan, namun let’s talk to him like an adult, tanpa memberi nada kalimat mengasihani dia, mengajak berpikir realistis. "Is, Ismail itu sakit cacar. Penyakit ini menular. Kasihan orang-orang yang ketularan Ismail nanti. Mommy sama Daddy sama Iqi dan mas Rafii’ malam ini mau pergi ke undangan, di rumah bang Iqbal. Mommy kebagian masak, jadi harus datang. Disana nanti juga ada tante IRW yang bawa adik baby dan masih tinggal di hotel. Kasihan kalo adik babynya ketularan. Jadi Ismail nanti malam tinggal di rumah ditemani bibi."

Ismail mengangguk-angguk dan berkata "Okay" sambil tersenyum.

Malamnya, sambil tergesa-gesa aku pamit sekali lagi. Ismail memasang muka mengasihani diri sendiri, ujung bibirnya tertekuk ke bawah dan roman muka sedih tapi menegarkan diri "mommy cepet pulang yah…" Trenyuh…, masih blum lama trenyuh menyergap hatiku, eh menyusul kalimat ini dari mulutnya "mommy internetnya dong….." dengan mata menggoda. HUH!!! Well, OK lah, maka dengan klick2 beberapa kali, maka Ismail ditinggalkan dgn koneksi internet.. Adem ayem.. perginya.

Empat belas hari berlalu sambil maknya gelisah UUB sudah mendekat, Rafii’ ketularan gak yah ? Kalo ketularan pliiisss deh jangan pas UUB. Sementara hari-hari Ismail akhirnya secara tak terkendali merajai internet! Gak pagi, siang, sore. Karena kegiatan maknya yg agak padat, dan internet ini semacam "pengalihan konsentrasinya untuk merengek" kalo gak mau dibilah "nyogok" spy dia mau "bertapa" di rumah,maka semakin menjadilah kegiatan Ismail dgn internet…

Sampai suatu saat…. tetangga heboh mulai terkena cacar satu persatu. Sampai-sampai interlokal-interlokal ke kampung halaman atau relative terdekat untuk sekedar menanyakan "Apa saya waktu kecil sudah kenak cacar ?? Inget-inget!!" mewarnai hari-harai tetangga :-D

Sementara koreng kering Ismail mulai berguguran, dan sudah masuk tanggal muda Januari… dan tiba saatnya untuk bayar tagihan bulanan internet connection.. GUBRAKKKKKKKKK 3x normal! Mestinya cukup untuk bayar 3 bulan jadi bayar untuk sebulan! Busyet apa pula yg dikerjakan si Unyil ini sementara sakit cacar ????

Emang free of charge untuk penyembuhan -> fasilitas kumpeni :-P, tapi ada bagian lain yg justru lebih mahal dari ongkos opname! huh!

Akhirnya dua belas hari berlalu ketika pagi-pagi bapaknya teriak "miii si Iqi cacar air juga !" katanya miris sambil curiga dan ketakutan nular ke dia. Hah ??? Barusan bapaknya mandikan Iqi setelah sholat subuh…, dan mendapati gak satu dua, tapi bejibun banyaknya di muka dan seluruh badan! Busyet!!! Kok yaaa aku mesti ngasih salep sampai 28 hari  (14 +14) ke dua anak-anakku !!! Trus…. mulai demanding ama internet…, busyet krucil piyek 3th ini jagoan ngenet bo’! Mesti brapa dut lagi buat "opname" 2 krucil dari cacar air ini ? BADALA !!

Akhirnya… pd hari Ismail lepas dari pingitan, seperti burung keluar dari sangkar, menghirup semua kebebasan….  suatu ketika… disaat maknya sibuk nyuapin Iqi makan malam yg agak-agak rewel dgn cacar airnya yang masih basah… Keributan di lantai atas sudah tak terdengar …, Ismail mendekatiku di meja makan "Daddy mana sama mas Rafii’ ?" . "Gak tahu, di atas… carilah", dengan agak heran walau masih sibuk nyuruh Iqi buka mulut, kulihat Ismail sudah berganti celana panjang coklat.

Berikutnya senyap…. sampai suara "Assalamualaikum…." dari lantai atas terdengar ( Pintu keluar rumah kami dari lantai atas…., jangan bingung :-D). Dan Ismail sudah menuruni tangga lagi. "Darimana Is ? mana Daddy sama mas Rafii’ ?"  "Masih di mushola", sahutnya pendek. Beberapa saat kemudian terdengar suara2 gaduh lain, bapaknya dan Rafii’ masuk rumah… Dengan senyum heran suamiku berkata "Mi, tau nggak, Ismail tadi ke mushalla sendirian, masuk pas sholat Isya udah jalan 2 rakaat, langsung mengambil tempat masbuk, menyusul sholat. Begitu selesai dia ngacir pulang duluan sendiri…" WOWWWWWWW !!!!!

Gak nyangka demikian nekatnya dia sampai berjalan sendiri di malam gelap gulita dari rumah ke musholla dengan jarak tempuh lumayan jauhlah.. 500 meter-an, melewati 3 buah rumah dan perkantoran.

Sudah begitu merasa terpenjaranyakah dia selama 14 hari ini, dan mengalahkan ke-engganan jalan bergelap-gelap sendirian ke mushola?? Hehehehe, tapi bagus lah!

Tinggal maknya menunggu cemas akhir dari drama epidemi cacar air ini, akankah berhenti di angka ke 28 hari ?? Ohhh bagai buah simalakama… Kalo beruntun berarti 42 hari buat oles-oles salep… Kalo gak beruntun, pakai "break" bisa-bisa waktu liburan anakku Rafii’ kami bakal menghabiskannya di rumah!UUUggghhhh !! Cacar Air….!

Kalau sekarang Iqi mondar-mandir BETE (saja), maka maknya BETE kuadrat!!

Di Bawah Jurang Masih Ada Jurang…

Nggak kerasa air mataku menetes, dan nafasku menjadi sangat sesak… Kucoba untuk mengatur nafas yg semakin tak teratur, khawatir  diujung line sana ia mendengar dan merasakan kegalauanku.

Jarum pendek jam dinding sudah bergeser 1.5 putaran sejak saat kuangkat gagang telephone yang berdering di lantai bawah. Tadi, aku seperti berburu dengan waktu… Berapa saat lagi jamuan makan malam keynote speaker acara besok segera dimulai, dan aku belum menyelesaikan perhitungan undangan. Aku pikir dering telephone tadi dari rekan panitia, mengingatkanku untuk segera datang…

"Halo… bisa bicara dengan bu Lukie ?" suara diseberang…

Bukan, ternyata bukan suara seorangpun dari panitia…, ughh.

"Ya…" sambil mencoba mengidentifikasi suara siapa.

Kemudian mengalirlah kegelisahan  itu satu persatu, beberapa saat kemudian aku mulai mengenalinya. Seseorang yang baru ku temui dua kali. Kami punya satu kesamaan yang membuat ia merasa nyaman untuk berbicara denganku. Titi, demikian ia memanggil putranya .. penyandang autistic, begitu juga Ismail anak kedua kami.

Kalimat-kalimatnya membawa pikiranku melayang ke masa-masa saat setiap malam derai air mataku membasahi wajahku, sambil menatap dan membelai kepala Ismail, dengan segumpal kegundahan dan ketakutan… Saat akhir malam, di saat  raga dan hati ini letih… doa menjadi pelepas energi negatif dalam tubuhku. Ya Allah…, mudahkanlah semua hal yang membuatku mendekat padaMu, dan sulitkanlah sesulit sulitnya jika itu membuatku jauh dariMu. Jika semua ini Kau tetapkan untukku, kuatkanlah langkahku untuk menghabiskan usiaku dengan cara yang paling baik, agar aku bisa menjadi bagian dari muslimah yang Kau cintai ya Allah….

Saat itu aku merasa begitu dekat denganMu ya Allah… Dalam heningnya malam  dan himpitan serta sesaknya dada dan air mata yang mengalir deras, satu persatu kupandangi wajah-wajah mungil anak-anakku, sementara lembar-lembar kertas koreksi mahasiswa, buku-buku seputar Autisic, daily report Ismail dan food dairynya terserak didepanku …..

Suara gundah, khawatir dan kelelahan di ujung line sana masih terdengar, dan aku seperti melihat diriku sendiri di masa lalu.. Ismail alhamdulillah sungguh sangat luar biasa saat ini - regarding the days we’ve been through. Sudah beberapa lama aku seperti lupa dengan detil perasaan-perasaanku dulu. Aku seperti tersentak, dan merasakan kerinduan akan kedekatanku denganNya, saat ku merasa tak berdaya…..

Aku tiada mampu berkata-kata, I am just an ordinary mom, apa yang terjadi pada Ismail sampai detik ini sulit aku simpulkan. Ya, aku melakukan A, B, C, D, … mencoba persistent dan konsisten, menegakkan dada, menyingsingkan lengan, tapi ada Allah yang ada di atas segalanya. Aku nggak mungkin bisa claim bahwa itu karena A,B,C, D, … tapi karena rahmat Allah yang rahman dan rahim…

Aku hanya bisa mendengar dan berupaya beratnya nafasku tak terdengar di ujung sana, tetesan air mataku dan rasa khawatirku tidak ia sadari, laliu berusaha menguatkan hatinya… tak kuasa bicara lebih…  Ia seperti teman-teman dunia mayaku lainnya yang begitu tangguh menjadi seorang ibu/ayah untuk putra-putri specialnya.. .

Gagang telephone kuletakkan kembali pd tempatnya, dan aku sudah kehilangan ritme kerjaku semula. Dengan galau aku kembali ke lantai atas, untuk menyelesaikan kegiatanku yang kutinggalkan tadi, merapikan data disribusi undangan dan perhitungan keuangan.

Setiap langkahku masih dipenuhi ingatanku akan telephone tadi, perasaan yang mengharu biru masih menguasai hatiku. Begitu sampai di lantai atas, pandangan mataku menangkap sesuatu yang ganjil… kenapa ponselku tergeletak di bawah…?? dengan LCD yg terang bergaris-garis ……

Rusak lagi….?? ughhh…..

Terbayang akan semua kerepotan menanti di depan, alignment, koordinasi dengan teman-teman akan terkendala untuk event yang ada di depan mata.

Dalam kondisi diluar kejadian ini, mungkin emosiku sudah diubun-ubun. Ini kali ke empat aku mesti mengganti lagi ponselku, dan masing-masing usianya 5 s/d 6 bulan saja.., namun telephone tadi…membuatku merasa "this is NOTHING.."  Aku jadi merasa ponsel-ponsel itu terlalu murah… dibandingkan nikmat Allah yang Ia berikan dengan kemajuan Ismail saat ini. Saat ini ia begitu pandainya memperdayaiku, mengambil kesempatan, beradu argumentasi dan berdalih dengan mimik muka yang dibuat-buat melengkapi ceritanya.

Ku yakin jika progress itu bisa dibeli dan dipastikan, seperti barang-barang yang dipajang di mall …,  temanku tadi tak akan berpikir dua kali untuk membelinya…… It’s priceless…, meskipun pengalaman ini pun begitu kaya dan penuh makna yang dalam.

Memang, saat kita berjalan…which is mendekati ujung usia, nasehat untuk selalu melihat ke bawah agar tidak kesandung menjadi penuh makna… Dan memang selalu ada jurang di bawah jurang  yang sering kita lupa. Bahwa terlalu banyak hal disekitar kita menjadi alasan untuk bersyukur….

Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar…