Keinginan, harapan yang jauh di depan sering membuatku buta untuk mensyukuri sesuatu yang ada saat ini, detik ini. Kadang terlalu jauh ke depan sehingga menjadi seperti angan belaka, yang sering membuatku gundah, akankah menjadi nyata ?
Beberapa hari yang lalu aku tercenung, keharuan menyesak menyadari Rafii’ mengingatku, ibunya, begitu rupa… Kegundahanpun menyublim begitu cepat, he’s so sweet why am I so worry ??
“Mami…., ini Rafii’ bawakan kue takjil hari ini di musholla, ueenakkk lho…” seraya membuka bungkusan tissue yang berlipat kucel. Ada 3 potong kue di depanku lumpia, bolu pandan, puding. ”ayuhlah mami, makan”. “Ini kue bagian Rafii’ tadi ? Rafii’ udah makan ?”, selidikku mengamati wajahnya.
Rafii’ anak pertamaku sejak Ramadhan tahun lalu mulai berpuasa. Tahun ini Ismail ikut berpuasa. Sensasi terbesar Ramadhan buat anak-anakku adalah berjalan menuju musholla menjelang adzan maghrib, duduk bersimpuh menunggu adzan bersama teman-teman menghadap 3 macam kue takjil, sebutir/tiga butir kurma dan segelas teh hangat. Buat mereka rasanya luar biasa! Disusul sholat maghrib berjamaah, pulang makan besar (nasi), kembali lagi ke musholla untuk isya dan tarawih dan kembali menemukan teman-teman di musholla. Musholla menjadi tempat yang paling rajin mereka kunjungi bertiga. Jika sudah waktunya (mereka sering melihat jam dinding jika sudah sore) mereka buru-buru mandi dan berendengan bertiga berjalan ke arah musholla….
Sepulang sholat maghrib, biasanya suara-suara ribut mulai memenuhi rumah, dan aku pun suka memancing reaksi mereka dengan “Takjil apa hari ini ?” lalu sontak mereka akan berebutan mendeskripsikan takjil hari itu. “Enak gak ? duh kepengen mommy” begitu biasanya reaksiku …
Aku tercenung saat Rafii’ kembali menyodorkan ketiga kue itu sembari berkata “maaf mi, baru skg Rafii’ bawain mami kuenya, soalnya biasanya selalu habis…banyak yang buka di musholla… cobalah mi”.
Daddynya menambahkan “Ia, tadi masih sibuk ajah bungkus-bungkus, daddy pikir dia ngurusin kuenya, padahal sudah qomat maghrib…, dia sibuk buka kotak-kotak kue, nglihat masih ada yg blum dimakan gak, dady ingetin untuk segera mengambil shaf berkali-kali …ternyata kue buat mommy …”
Duh…. nyesss rasanya hatiku, pandangan di depan rasanya blurrr , despite all things that he has done and what I did when I get upset, he’s still thinking of me …. So sweet……..! Kuamati wajah dan tubuhnya yang masih mungil dgn kesadaran baru - he is just a kid, and he puts me in some corner of his heart … Did I tell you that I love you son ??! Yes mom, milions… he said. But this is different son - you’re my world, you make me someone, you’re the reason to be living.
“Assalamu’alaikum mi, Rafii’ mau masuk”, seru Rafii’ menggedor pintu kamar tidur kami.. For some reason mereka selalu bilang “kamar mommy” instead of “kamar daddy”. Usianya sudah menjelang 9 th November nanti, tapi ia lah yang paling penakut. Kemana saja ia pergi selalu minta diantar, tidak ada rotan akar pun jadi, klo gak mommy, daddy, Ismail atau bahkan Rizqi pun jadi - adik bungsunya yg masih 4 th. Adik-adiknya sudah begitu mandiri untuk menjelajah rumah, mandi dan tidur sendiri. Kalau Rafii’ selalu minta ditemani.
Kali ini aku menjawab pendek “tidak boleh”, saat ia meminta tidur bersama kami (lagi). “takut mi … “sahutnya pendek, terduduk di lantai bersandar di tembok kamar tidur di sebelah pintu kamar. Matanya memerah saat kukatakan, bahwa ia sudah besar, bahwa segala hal selalu dimulai dari “tidak biasa”, tapi musti dimulai. Kalau nggak segera dimulai akan memupuk kebiasaan yang gak baik bla-bla… Lambat laun kulihat air mata menggenang di pelupuk matanya, tanpa suara saat kutanya tentang “siapa yang paling perkasa dan heibattt, semua yang “bergabung” pun tetep kalah” - yah Allah SWT. Aku ulangi lagi sifat-sifat Allah yang dihapalkannya di sekolah… yang Maha Segalanya …. bahwa Ia juga Penyayang, tidak pernah tidur, berilmu, dst. Kepada siapa Rafii’ mesti minta tolong kalau Rafii’ takut ? Bukan ke Mommy, ke Allah.. Dan genangan itu pun menetes tetap tanpa suara. Aku benar-benar merasakan rasa ketakutannya….
Terilhami keponakan yang sejak kecil berdzikir menjelang tidur, aku temani Rafii’ berjalan menuju kamarnya, berdoa tidur, doa untuk kedua orangtua, dan doa “sapu jagat”
selamat dunia dan akhirat dan diikuti dzikir tak henti.
Aku terharu saat menemaninya melafazkhan dzikir sampai ia jatuh tertidur di tempat tidur di kamarnya… Kupandangi wajahnya yang terlelap, he’s just a little boy… dan begitu dekat kepadaku. Yang terkesan tidak peduli, tapi selalu ingat kepadaku, yg selalu membawakanku segelas air putih saat aku gak enak badan dan membawa selimut dan menutup tubuhku di kamarku…
Love you son, semoga jalan orang-orang yang Allah sayangi yang selalu kau lewati … saat ini dan saat mendatang, selalu. Bersandarlah kepada-Nya, dan hanya kepada-Nya.. Setengah tahun belakangan ini Rafii’ is amazing … banyak pencapaian yang seharusnya aku beri compliment langsung … Ketertibannya saat waktu belajar mengaji, kesigapannya menjawab pertanyaan-pertanyaanku seputar sekolahnya hari itu, dan kemampuannya untuk tidak menjadi “baling-baling” dan bersuara keras di musholla spt tahun lalu … You’re doing great son, keep on making improvement …
Beranjak ku dari kamar Rafii’ , sejenak kulihat Ismail sudah jatuh tertidur di ranjangnya, nyenyak. Ku amat-amat i lagi wajahnya yang paling mungil dari tiga bersaudara… Kadang-kadang aku jengkel banget sama si cerewet satu ini, serta risih dengan sikapnya yang selalu menciumiku di seluruh wajahku. Jika Rafii’ sering mengejutkanku dengan tingkah laku yg menunjukkan perhatiannya kepadaku, kalau Ismail … aku selalu dihujani kata-kata “Love you mom” - “Sayangku mami” - “mami tercantik di dunia” dst dst anytime anywhere! Duh, gemes pengen nutup mulutnya klo aku lagi sibuk buanget sementara ia sibuk bilang “lihatlah mataku mami…! Aku sayang…. sama mami” Halah - entar deh, ini keburu gosong!!
Ismail adalah anak dengan driver yang sangat kuat dari dalam dirinya, he knows exactly what he wants, gak terpengaruh dengan pilihan orang lain, dan berusaha sekuat mungkin untuk makes what he wants coming true. Percaya diri dan sekaligus ramah! He is amazing little kid with giant dreams. Ia puasa tahun ini, penuh sampai maghrib mulai hari ke tiga Ramadhan. Mulanya ia berpuasa sampai dzuhur…”aku latihan puasa” katanya…
Sampai hari ke 3 iseng aku bilang “cobalah sampai maghrib” … “Aghhh nanti aku lapar mi….” “Sama dong kayak mommy, daddy, mas Rafii’ .. ” sahutku meledeknya. “Ahhh aku khan masih kecil” sambutnya. “Tapi Ismail khan heibattt” sahutku… Dan tak terasa Ramadhan kurang 10 hari lagi dan Ismail puasa penuh hingga hari ini… Ismail satu tahun belakangan ini kurang bisa mengendalikan nafsu makannya yg besar atas makanan-makanan “black list” mommynya…, padahal dulu ia yang paling advance soal satu ini, sejak ia masih umur 2 tahun!!! Semoga dgn berpuasa, ia mulai mengerti arti “menahan diri” kembali… Tubuhnya yang mungil memancing orang berpikir ia masih terlalu kecil untuk berpuasa. Aku terhenyak saat beberapa teman bertanya kepadaku, atau pada Ismail langsung “dapat apa dari mommy kalau puasa ?” Duh… gak pernah kepikir menjanjikan apapun padanya untuk urusan satu ini…, ataupun memberinya “punishment”. We’re just playing the game - the positif one… Semoga ia tidak berpikir untuk menjadi komersil atas kebaikan-kebaikan yang ia lakukan…..
Satu persatu kupandangi bagian tubuhnya yang mungil, sampai lesung pipit di pipi kanannya, membuatku mengingat senyuman pengunjung sholat tarawih di musholla.
Ismail mempunyai tone suara yang khas, agak melengking, namun tidak menyakitkan telinga (secara desibel) namun distinctive! Awalnya aku gemes mengingatkannya yang selalu “berlomba-lomba” dengan suara Imam … bayangin! Mendahului Imam yg pakai mic dgn suara keras dan tone yang khas untuk setiap gerakan dan bacaan sholat..! Duhhh guemessss berapa kali kuingatkan, teteup ajah… sampai semua makmum di musholla hapal dan kadang menanti-nantikannya. “Hari ini robbi firli robbi firli robbi firlinya gak kedengaran”, kata tante Elsie malam ini. Setiap kali diingatkan “Suara yang boleh terdengar saat sholat berjamaah hanya suara Imam”, ia akan menyahut “Ismail kepingin jadi Imam …!” Whewww
Suatu hari saat ceramah sehabis witir - ustadz mengangkat tema “perulangan” untuk mensugesti diri, dan bahwa seluruh alam semesta akan “bekerja” untuk membuatnya jadi nyata. Ismail dan para pengunjung kecil seperti biasa hilir mudik terlihat tak perduli dan sibuk menjahili lap top untuk ceramah sambil tes bayang-bayang diri di depan in focus. Nyebelin! Ustadz berujar, kalau perlu apa yang menjadi keinginan itu di print lalu dipasang di cermin dan diingat setiap saat bercermin…
Tak kusangka menjelang kami meninggalkan musholla, Ismail nyeletuk ke daddy nya “nanti Ismail mau google cari gambar roket di internet, lalu Ismail print dan ditempel di kamar Ismail” What ??? “Ismail khan mau jadi Astronaut” Glekkkk… Ternyata ia mendengarkan! Never underestimate him!! That’s my big lesson!
Tidurlah anakku, terbanglah kemana kau mau, dan menjadi-lah Imam dimanapun di alam semesta ini yang kamu pilih…! Jadilah anak yang sholeh, dan doakan mommy dan daddy setiap waktu…di belahan manapun alam semesta ini kamu berada! Dan bawalah kebaikan bagi sebanyak-banyaknya umat… (Hiks, teringat cita-citanya untuk membangun rumah di Planet lain untuk orang miskin yang gak punya rumah di Bumi).
Lain Rafii’, Ismail, lain pula si bungsu Iqi. Ia adalah anak yang paling “ngeh” dan peka terhadap sekitar, atas segala stimuli yang masuk melalui semua inderanya, mata, telinga, hidung, kulit… Amazing! Paling mudah belajar - paling cepat memahami dari mengamati. Dari tiga bersaudara, justru ini yang membuatku kurang memberi stimuli kognitif padanya. He’s doing great already! Jika aku menggumam membutuhkan sesuatu, ia yang dilantai bawah rumahpun reaktif membawa apa yang kubutuhkan (dengan menggumam tanpa meminta kepadanya). “Mami nyari ini ya ?” seraya mengangsurkan selotip yang kucari sampai berputar-putar di kamar-kamar… Glekkk aku terpesona !! Jika ia mendengar suara mobil lewat ia akan cepat menganalisa dan bereaksi - jam pulang sekolah, itu Rafii’ dan Ismail sambil berlari membuka pintu rumah. Kemampuan motorik kasar dan halusnya luar biasa! Dan ia juga pembaca gesture yang baik!!! Jika kupanggil dia karena sesuatu kesalahan, ia sudah mengerti sebelum aku menegur, ia akan menunduk dan merasa bersalah. Ia akan melewati “masa hukuman”nya dengan tertib : duduk di sudut ruang dengan raut wajah bersalah dan menyesal! Dan ia dengan riang hati membawa cucian kotor ke ruang bawah menuruni tangga jika kuminta, meneruskan pesan masak apa hari ini ke bibi, mematikan komputer saat dijumpai menyala, serta amanah dalam mengingatkan saudaranya untuk hanya menggunakan internet di hari minggu.., menyampaikan pesan telephone, meneruskan pesan siapapun kepadaku dengan teratur dan rinci, makan dengan rapi tanpa sejumput makanan pun jatuh di meja! Tangan kananku yang mungil…, you’re well organized and thurstworthy! Mukanya lucu, suka makai sarung kembar dengan teddy bear kesayangannya
He’s so adorable and cute !
Satu hal yang aku kagumi dari ayah anak-anakku : tidak sekalipun mengeluh/complain dalam segala urusan!! Tak sekalipun menoleh ke belakang dalam artian berlarut-larut dalam masa lalu walaupun dengan satuan detik! Jadi ingat betapa gemesnya klo mengantarnya ke pintu luar rumah saat kami masih “dating” dulu.. Kutunggu bayangnya menghilang di ujung jalan sampai benar-benar tak terlihat … sementara ia ?? 7,5 th mengenalnya sebelum menjadi suamiku, tak sekalipun ia menoleh kebelakang sekali lagi walau cuman sekejap! Hari - hari kuberharap, aku masih tak juga jera… Sampai hari ini.. Tapi ada yang berbeda setelah kami menikah…berhubung sudah jadi suami, gak perlu jaim lagi
Iseng secara random kupanggil-panggil dia beberapa meter setelah meninggalkan rumah menuju kantor dgn berjalan kaki. Puasss setiap kali ia menoleh kembali ke belakang dengan senyum lebar mengembang! Terimakasih untuk mengingatkan kami untuk mendekat padaNya setiap waktu, keep on doing that , jangan pernah merasa lelah …
Aku merasa kaya saat ini, mengingat special things arround… Three little kids yang fasih mengucap : tolong, maaf, terimakasih … serta meminta ijin dan seorang suami yang tak henti mengingatkanku untuk menjadi lebih baik….
Dan semoga harapan-harapan lain menjadi nyata seiring dengan berlalunya Ramadhan yang penuh maghfirah dimana semua doa di-ijabah-Nya…, dan ditambahNya semua nikmat bagi hambaNya yang pandai bersyukur….